Tunggu Sebentar...
Teknologi

Alibaba Berbagi Ilmu Seputar Dunia E-commerce lewat Global Course

Kang Jee – Di 5 Desember 2017, Alibaba commercial enterprise school menyelenggarakan international direction yang bertujuan untuk berbagi pengalaman dengan para pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Indonesia. Tujuan dari acara tersebut adalah agar para pelaku UKM mampu memaksimalkan teknologi, sehingga bisa mengikuti pola perdagangan masa kini yang mulai beralih ke layanan virtual.

Alibaba business college merupakan institusi yang didirikan bersama oleh Hangzhou everyday university of China dan Alibaba group pada Oktober 2008. Saat ini, Alibaba enterprise faculty memiliki fokus pada penerapan sistem pelatihan e-trade dari Alibaba group.

Menurut vice president Alibaba group, Brian Wong, apa yang mereka lakukan lewat worldwide direction sudah sejalan dengan misi yang diusung pihaknya, yakni membantu pengusaha Indonesia dalam ekonomi digital.

Kami berharap seminar ini mampu membantu mereka untuk sukses di dunia e-trade, baik dalam bidang analisis konsumen, nice industry exercise, ataupun kemampuan pemasaran.

Wong menuturkan pihaknya melihat Indonesia sebagai pasar yang besar dan sedang mengalami masa transisi perdagangan dari tradisional menuju virtual. Fenomena seperti ini, kata Wong, sudah pernah terjadi di Cina delapan belas tahun silam, sehingga ia merasa pengalaman mereka sebelumnya bisa dibagikan ke para pelaku UKM di Indonesia.

“Kami bukan ingin membuat Alibaba baru di Indonesia, tapi berbagi pengalaman dan pengetahuan yang mungkin bisa digunakan untuk memberdayakan UKM,” ujar Wong. “Itu sebabnya mengapa Alibaba menggandeng mitra market lokal agar UKM bisa diberdayakan, yang dijembatani lewat teknologi.”

Tantangan logistik dan pembayaran

alibaba

Wong kembali menegaskan setiap pasar yang dituju Alibaba memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda. Khusus untuk Indonesia, pihaknya melihat tantangan utama yang dihadapi pelaku e-commerce di Indonesia yakni masalah logistik dan pembayaran.

Terkait tantangan logistik, lebih berkaitan dengan luas wilayah Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17.000 pulau. Tantangan ini pun sudah pernah dibahas oleh Aulia E. Marinto selaku Ketua Asosiasi E-trade Indonesia (concept). Menurutnya ketepatan waktu pengiriman logistik di Indonesia masih rendah karena kondisi wilayah negara yang berbentuk kepulauan.

Untuk meningkatkan ketepatan waktu pengiriman, Aulia menuturkan perlunya kerja sama dan integrasi dari pengelola transportasi, penyedia jasa angkutan, dan pihak terkait. Ia mengaku sudah mengajukan masalah ini kepada Kementerian Perhubungan dan berharap semua pemangku kepentingan tetap optimis dalam menghadapi masalah ini.

Tantangan selanjutnya yakni soal pembayaran. Menurut Wong, hal ini juga pernah dihadapi oleh para pelaku e-trade di Cina karena jumlah masyarakat yang memiliki rekening bank masih rendah.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan information financial Inclution Index (Findex) oleh bank Dunia pada 2014, hanya 36 persen atau sekitar 90 juta penduduk dewasa yang memiliki rekening di bank. Pemerintah kemudian menargetkan 75 persen penduduk Indonesia, atau sekitar 188 juta orang, bisa memiliki rekening bank pada 2019.
Sembari menunggu goal itu tercapai, para pelaku e-trade mencoba memfasilitasi mereka yang belum memiliki rekening bank agar tetap bisa berbelanja on line dengan menyediakan berbagai solusi pembayaran alternatif. Beberapa penyedia market online menggandeng minimarket, seperti Shopee, Bukalapak, ataupun Lazada, yang berkolaborasi dengan Indomaret untuk menyediakan alternatif pembayaran bagi penggunanya.